Memegang Tiga Janji Nabi
Ketika
Baginda Rasul SAW mendakwahkan Islam, bangsa Arab berangsur menyambut beliau,
suku demi suku. Namun lain halnya dengan Adi bin Hatim. Ia memandang pengaruh
Sang Nabi sebagai ancaman yang akan melenyapkan kepemimpinannya. Karena itu, ia
menyimpan dengki meski belum mengenal lebih jauh pribadi Nabi yang luhur.
Hampir
20 tahun ia memusuhi Islam, sampai tiba suatu hari ketika hatinya beroleh
percikan hidayah, melalui kisah keislaman yang cukup menarik. Berikut penuturan
Adi mengenai asal mula ia masuk Islam :
Tidak
seorangpun bangsa Arab yang lebih benci kepada Baginda Rasul SAW daripada aku
tatkala mendengar sepak terjang dakwahnya. Aku seorang pemimpin yang dihormati
dan tinggal dengan kaumku di daerah kekuasaanku. Aku memungut pajak dari mereka
seperempat dari penghasilan mereka, sama dengan yang dilakukan raja-raja Arab
yang lain.
Ketika
pengaruh Baginda Rasul SAW bertambah besar dan tentaranya bertambah banyak, aku
berkata kepada budak yang menggembala untaku: “Hai, anak manis! Siapkan unta
betina yang gemuk dan jinak, lalu tambatkan selalu di dekatku. Bila kamu dengar
tentara Muhammad atau rombongannya menjejakkan kaki di negeri ini, beritahukan
kepadaku segera!”
Suatu
pagi, budakku datang mengahadap. “Wahai Tuanku! Apa yang akan anda perbuat bila
tentara berkuda Muhammad datang ke negeri ini, lakukanlah sekarang!” katanya.
“Mengapa?” tanyaku. “Hamba melihat beberapa bendera di sekeliling kampung.”
Jawabnya. “Bendera apa itu?” tanyaku lagi. “Bendera tentara Muhammad,”
jelasnya.
Aku
perintahkan buddakku untuk segera menyiapkan unta. Seketika itu juga aku
memanggil istri dan anak-anakku untuk berangkat ke negeri yang aman (Syam). Di
sana rencananya kami akan bergabung dengan orang-orang seagama kami dan tinggal
di rumah mereka. Dengan terburu-buru aku kumpulkan semua keluargaku.
Setelah
melewati tempat yang rawan, baru aku sadar bahwa ada keluargaku yang
tertinggal. Saudara perempuanku tertinggal di Nejed beserta penduduk Tha’i yang
lain. Aku terus berjalan dengan rombonganku sampai ke Syam dan menetap di sana.
Sementara itu, saudara perempuanku aku biarkan tertinggal di Tha’i. Hal ini
tentu saja mencemaskan hatiku. Ketika berada di Syam, aku mendapat berita bahwa
tentara berkuda Muhammad menyerang negeri kami. Saudara perempuanku tertangkap
dan menjadi tawanan, kemudian dibawa ke Yatsrib bersama sejumlah tawanan
lainnya.
Di
Yatsrib mereka ditempatkan dalam penjara dekat pintu masjid. Ketika Baginda
Rasul SAW lewat, saudariku menyapa: “Duhai Baginda Rasul! Bapakku telah binasa.
Yang menjaminku telah lenyap. Maka, limpahkanlah kepadaku karunia yang
dikaruniakan Allah SWT kepada Anda.” Baginda Rasul SAW bertanya: “Siapa yang
menjamin dirimu?” Saudariku menjawab: “Adi bin Hatim!” Beliau kemudian berkata:
“Dia lari dari Allah dan Rasul-Nya.” Sesudah berkata demikian, Baginda Rasul
SAW pergi. Esok paginya beliau lewat dekat saudariku itu. Ia kembali berkata
seperti perkataan hari sebelumnya kepada beliau, dan beliau menjawab seperti
jawaban semula.
Hari
ke-3 Baginda Rasul SAW melintas, tapi kali ini saudariku lupa menyapa beliau.
Seorang laki-laki memberi isyarat kepadanya agar menyapa beliau. Ia pun
kemudian berdiri mengahmpiri Baginda Rasul SAW seraya berkata: “Duhai
Rasulullah! Bapakku telah meninggal. Yang menjaminku telah lenyap. Maka
limpahkanlah kepadaku karunia yang dikaruniakan Allah kepada Anda.”
“Aku
penuhi permintaanmu!” sabda Baginda Nabi SAW. Mendengar itu, saudara
perempuanku itu berujar: “Aku ingin pergi ke Syam untuk menyusul keluargaku.
Beliau kemudian memberi saran: “Kamu jangan buru-buru pergi ke sana sebelum
mendapatkan orang yang dapat dipercaya dari kaummu untuk mengantarmu. Bila
engkau dapatkan orang yang dipercaya beritahukan kepadaku.”
Setelah
Baginda Rasul SAW pergi saudariku ini menanyakan siapa laki-laki yang memberi
isyarat kepadanya supaya menyapa beliau. Ternyata lelaki itu adalah Ali bin Abi
Thalib KWH.
Saudara
perempuanku ini pun tinggal di sana sebagai tawanan sampai datang orang yang
dipercaya untuk mengantarnya ke Syam. Setelah orang itu datang, ia memberitahu
kepada Baginda Rasul. “Duhai Rasulullah! Telah datang serombongan kaumku yang
dipercaya dan mereka menyanggupi untuk mengantarku.” Baginda Raul SAW
memberinya pakaian, unta untuk kendaraan dan belanja secukupnya. Maka berangkatlah
ia bersama rombongan tadi.
Sementara
itu, kami selalu mencari-cari berita tentang saudara kami itu dan menunggu
kedatangannya. Kami hampir tidak percaya apa yang diberikan tentang Muhammad
dengan segala kebaikannya terhadapnya. Demi Allah! Pada suatu hari ketika aku
sedang duduk di tengah keluargaku, tiba-tiba muncul seorang wanita dalam hawdaj
(tenda di atas unta) menuju ke arah kami. “Nah, itu anak perempuan Hatim!”
gumamku. Dugaan itu betul. Ia adalah saudari kami yang selama ini kami
tunggu-tunggu.
Setelah
turun dari kendaraan, ia segera mengahmpiriku seraya berkata: “Kamu tinggalkan
kami, kamu dzalim! Istri dan anak-anakmu kamu bawa. Tetapi, bapak dan saudara
perempuanmu serta yang lain kamu tinggalkan.” “Hai Adikku! Janganlah berkata
begitu!” jawabku mencoba menenangkannya. Setelah itu aku minta ia menceritakan
pengalamannya. Selesai bercerita, aku bertanya kepadanya: “Engkau wanita cerdik
dan pintar. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang bernama Muhammad itu?” Ia
lalu menjawab: “”Menurut pendapatku, Demi Allah, sebaiknya kamu segera temui
beliau. Jika beliau Nabi, maka yang paling dahulu mendatanginya sangat
beruntung. Dan jika beliau raja, tidak ada hinanya kamu berada di sampingnya.
Kamu juga seorang raja.”
Aku
pun kemudian menyiapkan perlengkapanku dan pergi ke Madinah menemui Baginda
Rasul SAW. Aku mendengar berita bahwa beliau pernah berkata: “Sesungguhnya aku
berharap Adi bin Hatim masuk Islam di hadapanku.” Sampai Yastrib, aku langsung
masuk ke majelis di dalam masjid dan memberi salam kepada belliau. Mendengar
salamku beliau bertanya: “Siapa itu?” Aku menjawab: “Adi bin Hatim!” Beliau pun
berdiri menyongsongku. Digandengnya tanganku kemudian membawaku ke rumah
beliau. Di tengah jalan tiba-tiba seorang wanita tua lemah yang sedang menggendong
bayi menghadap beliau meminta sedekah. Wanita tua itu juga menceritakan
kesulitan hidupnya. Rasul mendengarkan keluhan wanita itu sampai selesai. Aku
pun sabar menunggu.
Aku
berbisik dalam diriku: “Demi Allah! Ini bukan kebiasaan raja-raja!” Kemudian
beliau menggandeng tanganku dan berjalan bersama-sama denganku ke rumah beliau.
Tiba di rumah, beliau mengambil bantal kulit yang diisi sabut kurma, dan
memberikannya kepadaku. “Silahkan duduk di atas bantal ini!” kata beliau. Aku
malu diperlakukan demikian. Karena itu aku berkata: “Andalah yang pantas duduk
di situ.” Namun beliau ternyata berkata: “Kamu lebih pantas.”
Aku
menuruti perintah beliau untuk duduk di atas bantal tadi. Sementara beliau
duduk di tanah karena tidak ada lagi bantal yang lain. Aku pun berkata dalam
hati: “Demi Allah! Ini bukan kebiasaan raja-raja.” Kemudian beliau menoleh
kepadaku seraya berkata: “Hai Adi! Sudahkah kamu membanding-bandingkan agama
yang kamu anut, antara Nasrani dengan Shabiah?” Aku menjawab: “Sudah.”
“Bukankah
kamu memungut pajak dari seperempat penghasilan rakyat? Bukankah itu tidak
halal menurut agamamu?” Tanya beliau lagi. “Betul,” jawabku. Sementara itu, aku
mulai yakin bahwa Muhammad sesungguhnya utusan Allah SWT. Kemudian beliau
berkata: “Hai Adi! Agaknya kamu enggan masuk Islam karena kenyataan yang kamu
lihat tentang kaum muslimin yang miskin. Demi Allah! Tidak lama lagi harta akan
berlimpah-ruah di tangan mereka, sehinggan susah didapat orang yang mau
menerima sedekah. Atau barangkali kamu enggan masuk agama ini karena kaum
muslimin jumlahnya sedikit sedangkan musuh-musuh mereka banyak. Demi Allah!
Tidak lama lagi kamu akan mendengar berita seorang wanita datang dari Qadisiyah
mengendarai unta ke Baitullah tanpa takut kepada siapa pun selain kepada Allah
SWT.”
“Atau
mungkin kamu enggan masuk Islam karena raja-raja dan para sultan bukan dari
golongan muslim. Demi Allah! Tidak lama lagi kamu akan mendengar Istana Putih
Di negeri Babil (Iraq) direbut kaum muslimin dan kekayaan Kisra bin Hurmuz
pindah menjadi milik mereka.”
“Kekayaan
Kisra bin Hurmuz?” aku bertanya takjub. “Ya, kekayaan Kisra bin Hurmuz,” jawab
beliau meyakinkan. Seketika itu juga aku mengucapkan dua kalimah syahadat di
gadapan beliau dan resmi menjadi seorang muslim.
Terbukti
Adi bin Hatim adalah sahabat yang dikaruniai usia panjang. Belakangan ia
bercerita lagi kepada orang-orang dekatnya:
“Dua
perkara yang disabdakan Baginda Nabi SAW sudah terbukti kebenarannya. Tinggal
satu yang belum,namun itu bakal terjadi. Aku telah menyaksikan seorang wanita
berkendara unta dan dari Qadisiyah tanpa takut kepada apapun hingga ia sampai
ke Baitullah. Dan aku adalah tentara berkuda yang pertama-tama menyerang masuk
ke gudang perbendaharaan Kisra dan merampas harta kekayaannya. Aku bersumpah
Demi Allah, yang ketiga pasti akan terjadi pula.
Peristiwa
ketiga terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Waktu itu
kemakmuran merata dikalangan kaum Muslim. Setiap orang bersusah payah mencari
orang yang berhak menerima zakat. Akan tetapi mereka tak juga menemui mereka
karena kaum muslimin hidup berkecukupan. Memang benar sabda Baginda Raul SAW
dan tepat pula sumpah yang diucapkan Adi bin Hatim.
Adi
adalah putra Hatim bin Abdullah bin Saad bin Hasyraj at Tha’i. Ia dijuluki Abu
Wahab atau Abu Tarif. Sahabat yang masuk Islam pada tahun 9 H ini terkenal
sebagai orator ulung. Ia adalah kepala suku Tha’i baik pada masa jahiliah mau
pun masa Islam. Dia mempunyai jasa besar dalm menumpas kaum murtad dan ikut
serta dalam penaklukan Irak. Belakangan ia berdomisili di kota Kufah dan wafat di sana.






0 komentar:
Posting Komentar