Translate

Jumat, 23 Januari 2015

Adi bin Hatim

Memegang Tiga Janji Nabi
           
            Ketika Baginda Rasul SAW mendakwahkan Islam, bangsa Arab berangsur menyambut beliau, suku demi suku. Namun lain halnya dengan Adi bin Hatim. Ia memandang pengaruh Sang Nabi sebagai ancaman yang akan melenyapkan kepemimpinannya. Karena itu, ia menyimpan dengki meski belum mengenal lebih jauh pribadi Nabi yang luhur.
            Hampir 20 tahun ia memusuhi Islam, sampai tiba suatu hari ketika hatinya beroleh percikan hidayah, melalui kisah keislaman yang cukup menarik. Berikut penuturan Adi mengenai asal mula ia masuk Islam :
            Tidak seorangpun bangsa Arab yang lebih benci kepada Baginda Rasul SAW daripada aku tatkala mendengar sepak terjang dakwahnya. Aku seorang pemimpin yang dihormati dan tinggal dengan kaumku di daerah kekuasaanku. Aku memungut pajak dari mereka seperempat dari penghasilan mereka, sama dengan yang dilakukan raja-raja Arab yang lain.
            Ketika pengaruh Baginda Rasul SAW bertambah besar dan tentaranya bertambah banyak, aku berkata kepada budak yang menggembala untaku: “Hai, anak manis! Siapkan unta betina yang gemuk dan jinak, lalu tambatkan selalu di dekatku. Bila kamu dengar tentara Muhammad atau rombongannya menjejakkan kaki di negeri ini, beritahukan kepadaku segera!”
            Suatu pagi, budakku datang mengahadap. “Wahai Tuanku! Apa yang akan anda perbuat bila tentara berkuda Muhammad datang ke negeri ini, lakukanlah sekarang!” katanya. “Mengapa?” tanyaku. “Hamba melihat beberapa bendera di sekeliling kampung.” Jawabnya. “Bendera apa itu?” tanyaku lagi. “Bendera tentara Muhammad,” jelasnya.
            Aku perintahkan buddakku untuk segera menyiapkan unta. Seketika itu juga aku memanggil istri dan anak-anakku untuk berangkat ke negeri yang aman (Syam). Di sana rencananya kami akan bergabung dengan orang-orang seagama kami dan tinggal di rumah mereka. Dengan terburu-buru aku kumpulkan semua keluargaku.
            Setelah melewati tempat yang rawan, baru aku sadar bahwa ada keluargaku yang tertinggal. Saudara perempuanku tertinggal di Nejed beserta penduduk Tha’i yang lain. Aku terus berjalan dengan rombonganku sampai ke Syam dan menetap di sana. Sementara itu, saudara perempuanku aku biarkan tertinggal di Tha’i. Hal ini tentu saja mencemaskan hatiku. Ketika berada di Syam, aku mendapat berita bahwa tentara berkuda Muhammad menyerang negeri kami. Saudara perempuanku tertangkap dan menjadi tawanan, kemudian dibawa ke Yatsrib bersama sejumlah tawanan lainnya.
            Di Yatsrib mereka ditempatkan dalam penjara dekat pintu masjid. Ketika Baginda Rasul SAW lewat, saudariku menyapa: “Duhai Baginda Rasul! Bapakku telah binasa. Yang menjaminku telah lenyap. Maka, limpahkanlah kepadaku karunia yang dikaruniakan Allah SWT kepada Anda.” Baginda Rasul SAW bertanya: “Siapa yang menjamin dirimu?” Saudariku menjawab: “Adi bin Hatim!” Beliau kemudian berkata: “Dia lari dari Allah dan Rasul-Nya.” Sesudah berkata demikian, Baginda Rasul SAW pergi. Esok paginya beliau lewat dekat saudariku itu. Ia kembali berkata seperti perkataan hari sebelumnya kepada beliau, dan beliau menjawab seperti jawaban semula.
            Hari ke-3 Baginda Rasul SAW melintas, tapi kali ini saudariku lupa menyapa beliau. Seorang laki-laki memberi isyarat kepadanya agar menyapa beliau. Ia pun kemudian berdiri mengahmpiri Baginda Rasul SAW seraya berkata: “Duhai Rasulullah! Bapakku telah meninggal. Yang menjaminku telah lenyap. Maka limpahkanlah kepadaku karunia yang dikaruniakan Allah kepada Anda.”
            “Aku penuhi permintaanmu!” sabda Baginda Nabi SAW. Mendengar itu, saudara perempuanku itu berujar: “Aku ingin pergi ke Syam untuk menyusul keluargaku. Beliau kemudian memberi saran: “Kamu jangan buru-buru pergi ke sana sebelum mendapatkan orang yang dapat dipercaya dari kaummu untuk mengantarmu. Bila engkau dapatkan orang yang dipercaya beritahukan kepadaku.”
            Setelah Baginda Rasul SAW pergi saudariku ini menanyakan siapa laki-laki yang memberi isyarat kepadanya supaya menyapa beliau. Ternyata lelaki itu adalah Ali bin Abi Thalib KWH.
            Saudara perempuanku ini pun tinggal di sana sebagai tawanan sampai datang orang yang dipercaya untuk mengantarnya ke Syam. Setelah orang itu datang, ia memberitahu kepada Baginda Rasul. “Duhai Rasulullah! Telah datang serombongan kaumku yang dipercaya dan mereka menyanggupi untuk mengantarku.” Baginda Raul SAW memberinya pakaian, unta untuk kendaraan dan belanja secukupnya. Maka berangkatlah ia bersama rombongan tadi.
            Sementara itu, kami selalu mencari-cari berita tentang saudara kami itu dan menunggu kedatangannya. Kami hampir tidak percaya apa yang diberikan tentang Muhammad dengan segala kebaikannya terhadapnya. Demi Allah! Pada suatu hari ketika aku sedang duduk di tengah keluargaku, tiba-tiba muncul seorang wanita dalam hawdaj (tenda di atas unta) menuju ke arah kami. “Nah, itu anak perempuan Hatim!” gumamku. Dugaan itu betul. Ia adalah saudari kami yang selama ini kami tunggu-tunggu.
            Setelah turun dari kendaraan, ia segera mengahmpiriku seraya berkata: “Kamu tinggalkan kami, kamu dzalim! Istri dan anak-anakmu kamu bawa. Tetapi, bapak dan saudara perempuanmu serta yang lain kamu tinggalkan.” “Hai Adikku! Janganlah berkata begitu!” jawabku mencoba menenangkannya. Setelah itu aku minta ia menceritakan pengalamannya. Selesai bercerita, aku bertanya kepadanya: “Engkau wanita cerdik dan pintar. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang bernama Muhammad itu?” Ia lalu menjawab: “”Menurut pendapatku, Demi Allah, sebaiknya kamu segera temui beliau. Jika beliau Nabi, maka yang paling dahulu mendatanginya sangat beruntung. Dan jika beliau raja, tidak ada hinanya kamu berada di sampingnya. Kamu juga seorang raja.”
            Aku pun kemudian menyiapkan perlengkapanku dan pergi ke Madinah menemui Baginda Rasul SAW. Aku mendengar berita bahwa beliau pernah berkata: “Sesungguhnya aku berharap Adi bin Hatim masuk Islam di hadapanku.” Sampai Yastrib, aku langsung masuk ke majelis di dalam masjid dan memberi salam kepada belliau. Mendengar salamku beliau bertanya: “Siapa itu?” Aku menjawab: “Adi bin Hatim!” Beliau pun berdiri menyongsongku. Digandengnya tanganku kemudian membawaku ke rumah beliau. Di tengah jalan tiba-tiba seorang wanita tua lemah yang sedang menggendong bayi menghadap beliau meminta sedekah. Wanita tua itu juga menceritakan kesulitan hidupnya. Rasul mendengarkan keluhan wanita itu sampai selesai. Aku pun sabar menunggu.
            Aku berbisik dalam diriku: “Demi Allah! Ini bukan kebiasaan raja-raja!” Kemudian beliau menggandeng tanganku dan berjalan bersama-sama denganku ke rumah beliau. Tiba di rumah, beliau mengambil bantal kulit yang diisi sabut kurma, dan memberikannya kepadaku. “Silahkan duduk di atas bantal ini!” kata beliau. Aku malu diperlakukan demikian. Karena itu aku berkata: “Andalah yang pantas duduk di situ.” Namun beliau ternyata berkata: “Kamu lebih pantas.”
            Aku menuruti perintah beliau untuk duduk di atas bantal tadi. Sementara beliau duduk di tanah karena tidak ada lagi bantal yang lain. Aku pun berkata dalam hati: “Demi Allah! Ini bukan kebiasaan raja-raja.” Kemudian beliau menoleh kepadaku seraya berkata: “Hai Adi! Sudahkah kamu membanding-bandingkan agama yang kamu anut, antara Nasrani dengan Shabiah?” Aku menjawab: “Sudah.”
            “Bukankah kamu memungut pajak dari seperempat penghasilan rakyat? Bukankah itu tidak halal menurut agamamu?” Tanya beliau lagi. “Betul,” jawabku. Sementara itu, aku mulai yakin bahwa Muhammad sesungguhnya utusan Allah SWT. Kemudian beliau berkata: “Hai Adi! Agaknya kamu enggan masuk Islam karena kenyataan yang kamu lihat tentang kaum muslimin yang miskin. Demi Allah! Tidak lama lagi harta akan berlimpah-ruah di tangan mereka, sehinggan susah didapat orang yang mau menerima sedekah. Atau barangkali kamu enggan masuk agama ini karena kaum muslimin jumlahnya sedikit sedangkan musuh-musuh mereka banyak. Demi Allah! Tidak lama lagi kamu akan mendengar berita seorang wanita datang dari Qadisiyah mengendarai unta ke Baitullah tanpa takut kepada siapa pun selain kepada Allah SWT.”
            “Atau mungkin kamu enggan masuk Islam karena raja-raja dan para sultan bukan dari golongan muslim. Demi Allah! Tidak lama lagi kamu akan mendengar Istana Putih Di negeri Babil (Iraq) direbut kaum muslimin dan kekayaan Kisra bin Hurmuz pindah menjadi milik mereka.”
            “Kekayaan Kisra bin Hurmuz?” aku bertanya takjub. “Ya, kekayaan Kisra bin Hurmuz,” jawab beliau meyakinkan. Seketika itu juga aku mengucapkan dua kalimah syahadat di gadapan beliau dan resmi menjadi seorang muslim.
            Terbukti Adi bin Hatim adalah sahabat yang dikaruniai usia panjang. Belakangan ia bercerita lagi kepada orang-orang dekatnya:
            “Dua perkara yang disabdakan Baginda Nabi SAW sudah terbukti kebenarannya. Tinggal satu yang belum,namun itu bakal terjadi. Aku telah menyaksikan seorang wanita berkendara unta dan dari Qadisiyah tanpa takut kepada apapun hingga ia sampai ke Baitullah. Dan aku adalah tentara berkuda yang pertama-tama menyerang masuk ke gudang perbendaharaan Kisra dan merampas harta kekayaannya. Aku bersumpah Demi Allah, yang ketiga pasti akan terjadi pula.
            Peristiwa ketiga terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Waktu itu kemakmuran merata dikalangan kaum Muslim. Setiap orang bersusah payah mencari orang yang berhak menerima zakat. Akan tetapi mereka tak juga menemui mereka karena kaum muslimin hidup berkecukupan. Memang benar sabda Baginda Raul SAW dan tepat pula sumpah yang diucapkan Adi bin Hatim.
            Adi adalah putra Hatim bin Abdullah bin Saad bin Hasyraj at Tha’i. Ia dijuluki Abu Wahab atau Abu Tarif. Sahabat yang masuk Islam pada tahun 9 H ini terkenal sebagai orator ulung. Ia adalah kepala suku Tha’i baik pada masa jahiliah mau pun masa Islam. Dia mempunyai jasa besar dalm menumpas kaum murtad dan ikut serta dalam penaklukan Irak. Belakangan ia berdomisili di kota Kufah dan  wafat di sana.

0 komentar:

Posting Komentar